Bone, inilahmedia.id – Dalam waktu yang relatif singkat, SD Islam Athirah Bone berhasil menunjukkan perkembangan yang membanggakan di bidang prestasi.
Sejak mulai beroperasi pada 2024 lalu, sekolah ini telah mencatatkan 24 prestasi dalam kurun tiga tahun perjalanan, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Prestasi yang diraih berasal dari beragam cabang, baik akademik maupun nonakademik. Pada ajang nasional, siswa SD Islam Athirah Bone mengoleksi 10 medali dari kompetisi English, Mathematics and Science Olympiad (EMSO) 2026 dan Indonesia Mathematics and Science Competition (IMSC) 2026, yang terdiri atas 1 medali emas, 4 medali perak, dan 5 medali perunggu. Selain itu, siswa juga menorehkan prestasi pada kompetisi matematika tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, serta meraih sejumlah gelar juara pada kejuaraan Anging Mammiri Championship Series III cabang renang dan olahraga menembak.
Secara keseluruhan, dari 24 prestasi tersebut, siswa SD Islam Athirah Bone berhasil mengumpulkan 6 medali emas atau juara 1, 8 medali perak atau juara 2, dan 10 medali perunggu atau juara 3. Prestasi tersebut lahir dari berbagai bidang, mulai dari sains, matematika, bahasa Inggris, renang, hingga menembak.
Keberhasilan tersebut, menurut Kepala SD Islam Athirah Bone, Eva Rukmana, merupakan hasil dari proses pembinaan yang terus berkembang sejak sekolah berdiri. Ia mengatakan tantangan terbesar sebagai sekolah baru bukan sekadar mengejar prestasi, melainkan membangun budaya dan mental juara pada diri peserta didik.
“Tantangan utama sebagai sekolah yang baru beroperasi tentu saja membangun budaya dan mental juara dari nol. Awalnya kami mendorong anak-anak mengikuti lomba sambil melakukan persiapan menghadapi kompetisi. Persiapan dilakukan secara intensif menjelang pelaksanaan lomba, dan yang tidak kalah penting adalah melatih mental mereka agar siap menghadapi hasil apa pun, termasuk ketika belum berhasil menjadi juara,” ujar Eva.
Seiring berjalannya waktu, sistem pembinaan terus dievaluasi. Pembinaan tidak lagi dilakukan hanya menjelang perlombaan, tetapi menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung sepanjang tahun. Dengan bekal yang dipersiapkan lebih awal, siswa diharapkan memiliki kemampuan dan kepercayaan diri yang lebih baik saat mengikuti berbagai kompetisi.
“Kami terus mengevaluasi sistem pembinaan. Anak-anak tidak hanya dilatih ketika akan mengikuti lomba, tetapi harus memiliki bekal sejak jauh hari. Dengan begitu, mereka lebih siap, baik dari sisi kemampuan maupun kepercayaan diri saat mengikuti kompetisi,” katanya.
Eva menambahkan, keberhasilan siswa juga tidak terlepas dari dukungan orang tua yang menjadi mitra sekolah dalam proses pembinaan. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun budaya berprestasi di SD Islam Athirah Bone.
“Peran orang tua sangat besar dalam mendukung prestasi anak. Banyak orang tua yang memberikan dukungan melalui kelas tambahan, les, maupun pendampingan belajar di rumah. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua inilah yang menjadi kekuatan SD Islam Athirah Bone, baik dalam pengembangan prestasi maupun pengembangan program-program sekolah lainnya,” tuturnya.
Salah seorang peraih medali nasional, Muhammad Gibran, mengaku tidak menyangka dapat membawa pulang medali untuk sekolahnya. Menurutnya, latihan bersama guru dan dukungan dari orang tua membuatnya lebih percaya diri saat mengikuti perlombaan.
“Senang sekali. Saya mau belajar lebih rajin lagi supaya nanti bisa ikut lomba lagi dan bisa juara lagi,” ujar Gibran.







